PENGEMBANGAN POTENSI AGROEKOWISATA DI KAWASAN BULU DUA KABUPATEN SOPPENG

Ary Muhammad, Muhammad Darmawan

Abstract

Kawasan Bulu Dua menjadi salah satu wilayah yang termasuk dalam rencana induk pariwisata Kabupaten Soppeng yang dapat dikembangkan  sebagai kawasan Ekowisata. Penelitian dilakukan di Kawasan Bulu Dua yang terletak di  Desa Gattareng Toa, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Dalam penelitian ini digunakan metode survei dengan teknik observasi, kuesioner, wawancara, dan studi pustaka. Tahapan  studi terdiri dari persiapan, pengumpulan data (inventarisasi), analisis dan sintesis, dan perumusan konsep pengembangan. mengacu pada pedoman penilaian potensi wisata alam yang di terbitkan oleh Direktorat Bina Kawasan Pelestarian Alam. Tujuan yang ingin dicapai yaitu: mengkaji dan menganalisis potensi dan daya tarik wisata alam di Kawasan Bulu Dua serta merumuskan strategi pengelolaan wisata alam berbasis masyarakat di Kawasan Bulu Dua Kabupaten Soppeng. Berasarkan hasil penilaian potensi wisata alam suatu kawasan layak ditunjuk dan dikembangkan apabila mempunyai nilai kisaran antara 478 – 820. Hasil penilaian potensi wisata alam yang telah dilakukan mendapatkan nilai 575. Berdasarkan fungsi dan penilaian potensi wisata di dalam tapak, dimana daya tarik (alam) menjadi fokus utama, diperkuat dengan kekhasan fauna endemik Macaca maura sebagai point of view serta penguatan oleh partisipasi masyarakat dan dukungan pemangku kebijakan. Penataan ruang direncanakan terbagi atas  5 zona yaitu zona welcome area, zona natural tourism, zona pelayanan dan wisata budaya, zona agrowisata, dan zona  wisata tirta. Penataan vegetasi direncanakan memanfaatkan dan mempertahankan vegetasi asli tapak, tata hijau terdiri dari tata hijau produksi dan tata hijau konservasi. 

 

Keywords

Penilaian potensi; Agroekowisata; Konsep Pengembangan

Full Text:

PDF

References

Badan Pusat Statistik. 2011. Kabupaten Soppeng dalam Angka. BPS Kabupaten Soppeng

Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 1994. Kriteria Penilaian dan Pengembangan Objek Wisata Alam. Direktorat Bina Pelestarian Alam. Jakarta

Doosti, S., Hosseini, S. B., Reza, A., Azeri, K. 2015. The Physical Variables of Tourist Areas to Increase the Tourists Satisfaction Regarding the Sustainable Tourism Criteria : Case study of Rudsar Villages , Sefidab in Rahim Abad. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 201(February),128–135.

Fajriningtias. 2016. Upaya BIMP-EAGA dalam Membangun Konektivitas antar Kawasan di Indonesia. JOM FISIP Vol. 3, No. 2

Fandeli, C. 2000. Pengusahaan Ekowisata. Univ. Gajah Mada. Yogyakarta

Nurisyah, S. 2001. Rencana Pengembangan Fisik Kawasan Wisata Bahari di Wilayah Pesisir Indonesia. Buletin Taman Dan Lanskap Indonesia. Perencanaan, Perancangan dan Pengelolaan Volume 3, Nomor 2, 2000. Bogor: 133 Studio Arsitektur Pertamanan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Rismunandar. 2017. Strategi Pengelolaan Wisata Alam Berbasis Masyarakat Di

Taman Nasional Gunung Tambora. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Seniarfan. 2009. Konsep Pengembangan Lanskap Ekowisata kawasan Hutan Campaga Kecamatan Tompobulu Kabupaten Bantaeng. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Hasanuddin. Makassar

Suwantoro, , Gamal.1977.Dasar-Dasar Pariwisata.Yogyakarta : ANDI

Suwena, I. K., Wiyatmaja, I. G. N. 2010. Pengetahuan Dasar Ilmu Pariwisata.

Bali: Udayana University Pres.

Strickland-Munro JK, Allison HE, Moore SA. Using resilience concepts to investigate the impacts of protected area tourism on communities. Annals

of Tourism Research 37: 499 – 519.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.