Variabilitas Iklim dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota Tangerang

Authors

  • Citra Puspa Juwita Universitas Kristen Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.32662/gjph.v3i1.914

Keywords:

dengue haemorrhagic fever, humidity, precipitation, temperature, curah hujan, demam berdarah dengue, kelembaban, suhu

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an endemic disease of Tangerang City with fluctuating case month by month. DHF is a disease that caused by dengue virus and transmitted by Ae. Aegypti, and also have relation with climate variability conditions. This research is using secondary data with ecological study design by using time series, to see the correlations between climate variability (temperature, precipitation and humidity) with hemorarhagic dengue fever cases in Tangerang City in the period 2004-2013. This research was using univariate analysis method and bivariate analysis with correlation and linear regression.  This study revealed that significant correlation between dengue hemorrhagic fever cases with climate variability; in moderate correlation which correlation between dengue hemorrhagic fever with temperature has coefficient correlation 0,314 and p = 0.004; correlation between dengue hemorrhagic fever with precipitation has coefficient correlation 0,355 and p = 0.000; and correlation between dengue hemorrhagic fever with humidity has coefficient correlation 0,298 and p = 0.002. Strong correlations can be seen with a short period by year. Significant relationship on climate variability (temperature, rainfall and humidity) with the incidence of DHF period of 10 years (2004-2013) with moderate closeness.

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang endemis di Kota Tangerang dengan kejadian yang berfluktuasi per bulannya. Penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Ae. aegypti ini akan tinggi ketika musim penghujan tiba dan akan berangsur-angsur menurun ketika tidak musim penghujan. Dengan menggunakan data sekunder yang tersedia, penelitian ini menggunakan desain studi ekologi, berdasarkan urutan waktu (time series) untuk melihat adakah hubungan antara variabilitas iklim (suhu, curah hujan dan kelembaban) dengan kejadian demam berdarah dengue di Kota Tangerang. Analisis yang digunakan adalah univariat dengan menggunakan distribusi frekuensi dan analisis bivariat dengan uji korelasi dan regresi linear. Berdasarkan hasil penelitian dinyatakan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara kejadian demam berdarah dengue dengan variabilitas iklim dengan keeratan hubungan yang sedang yaitu pada hubungan antara kejadian demam berdarah dengue dengan suhu memiliki koefesien korelasi 0,314 dan nilai p = 0,004; hubungan antara kejadian demam berdarah dengue dengan curah hujan memiliki koefesien korelasi 0,355 dan nilai p = 0,000; dan hubungan antara kejadian demam berdarah dengue dengan kelembaban memiliki koefesien korelasi 0,298 dan p = 0,002. Hubungan yang erat dapat dilihat dengan periode waktu yang pendek yaitu per tahun. Hubungan yang bermakna pada variabilitas iklim (suhu, curah hujan dan kelembaban) dengan kejadian DBD periode 10 tahun (2004-2013) dengan keeratan sedang.

References

Ariati, Jusniar, Nawar A. 2014. Model Prediksi Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) berdasarkan Faktor Iklim di Kota Bogor, Jawa Barat. Bul. Penellitian Kesehatan. 42(4): 249 – 256.

Arieskha FT, Rahardjo M, Joko T. 2019. Variabilitas Cuaca Dan Asosisasinya dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Kabupaten Tegal. Jurnal Kesehatan Lingkungan. 11(4): 339-347.

Dinas Kesehatan Provinsi Banten. 2018. Profil Kesehatan Provinsi Banten. Banten: Dinas Kesehatan Provinsi Banten.

Dinas Kesehatan Provinsi Banten. 2019. Profil Kesehatan Provinsi Banten. Banten: Dinas Kesehatan Provinsi Banten.

Fairos WY, Wan WH, Wan AL, Alias M, Bee WY. 2010. Modelling Dengue Fever (DF) and Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) Outbreak Using Poisson and Negative Binominal Model. World Academy of Science, Engineering and Technology. 62.

Febriasari SG. 2011. Perubahan Iklim dengan Kejadian Penyakit Demam Berdarah dengue (DBD) di Kota Administrasi Jakarta Timur Tahun 2000 – 2009. (Skripsi). Universitas Indonesia. Jakarta.

Gharbi M. 2011. Time Series Analysis of Dengue Incidence in Guadeloupe, French West Indies: Forecasting Models using Climate Variables as Predictors. BMC Infectious Diseases.166(11): 1471 – 2334.

Handayani P. 2012. Hubungan antara Faktor Iklim dan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah DKI Jakarta Tahun 2008 – 2011. (Skripsi). Universitas Indonesia. Jakarta.

Ibarra SA and Lowe R. 2013. Climate and Non-Climate Drivers of Dengue Epidemics in Southern Coastal Ecuador. Am J Trop Med Hyg. 8(5): 971–981.

Indrayani, Yoeyoen A, Wahyudi T. 2018. Situasi Penyakit Demam Berdarah di Indonesia Tahun 2017. Pusat Data dan Infromasi Kemeterian Kesehatan RI. Jakarta.

Karim, Nazmul MD, Munshi SU, Anwar N, Alam MD. 2012. Climatic Factors Influencing Dengue Cases in Dhaka City: A Model for Dengue Prediction. The Indian Journal of Medical Research. 136(1): 32 – 39.

Islam MZ, Rutherford S, Phung D, Uzzaman MD, Baum S, Huda MM, Asaduzzaman M, Talukder MRR, Chu C. 2018. Correlates of Climate Variability and Dengue Fever in Two Metropolitan Cities in Bangladesh.†Cureus. 10(10): 3398.

Pham HV, Doan HT, Phan T, Minh NN. 2011. Ecological Factors Associated with Dengue Fever in a Central Highlands Province, Vietnam. BMC Infect, Vol. 11: 1471 – 2334.

Raksanagara A, Arisanti N, Rinawan F. 2015. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Kejadian Demam berdarah di Jawa Barat. Jurnal Sistem Kesehatan. 1(1): 43 – 47.

Sangkertadi. 2013. Kenyamanan Termis di Ruang Luar Beriklim Tropis Lembab. Alfabeta. Bandung.

Sia S. 2008. Correlation of Climate Factors and dengue incidencein Metro Manila, Philiphines, Ambio. A journal of the human environment. 37(4): 292 – 294.

Fazidah SA, Abdullah MR, Omar J, Sarumpaet SM. 2015. Climate Variability and Disease Forecasting Model for Dengue Hemorrhagic Fever in North Sumatera Province, Indonesia. Research Journal of Medical Sciences. 9 (2): 18 – 27.

Suhardi B. 2012. Buku Informasi Perubahan Iklim dan Kualitas Udara di Indonesia. Badan Meteorologi dan Giofisika. Jakarta.

Downloads

Published

2020-04-01

Issue

Section

Articles