PENGEMBANGAN POTENSI AGROEKOWISATA DI KAWASAN BULU DUA KABUPATEN SOPPENG
DOI:
https://doi.org/10.32662/gjfr.v2i2.718Keywords:
Penilaian potensi, Agroekowisata, Konsep PengembanganAbstract
Kawasan Bulu Dua menjadi salah satu wilayah yang termasuk dalam rencana induk pariwisata Kabupaten Soppeng yang dapat dikembangkan sebagai kawasan Ekowisata. Penelitian dilakukan di Kawasan Bulu Dua yang terletak di Desa Gattareng Toa, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Dalam penelitian ini digunakan metode survei dengan teknik observasi, kuesioner, wawancara, dan studi pustaka. Tahapan studi terdiri dari persiapan, pengumpulan data (inventarisasi), analisis dan sintesis, dan perumusan konsep pengembangan. mengacu pada pedoman penilaian potensi wisata alam yang di terbitkan oleh Direktorat Bina Kawasan Pelestarian Alam. Tujuan yang ingin dicapai yaitu: mengkaji dan menganalisis potensi dan daya tarik wisata alam di Kawasan Bulu Dua serta merumuskan strategi pengelolaan wisata alam berbasis masyarakat di Kawasan Bulu Dua Kabupaten Soppeng. Berasarkan hasil penilaian potensi wisata alam suatu kawasan layak ditunjuk dan dikembangkan apabila mempunyai nilai kisaran antara 478 – 820. Hasil penilaian potensi wisata alam yang telah dilakukan mendapatkan nilai 575. Berdasarkan fungsi dan penilaian potensi wisata di dalam tapak, dimana daya tarik (alam) menjadi fokus utama, diperkuat dengan kekhasan fauna endemik Macaca maura sebagai point of view serta penguatan oleh partisipasi masyarakat dan dukungan pemangku kebijakan. Penataan ruang direncanakan terbagi atas 5 zona yaitu zona welcome area, zona natural tourism, zona pelayanan dan wisata budaya, zona agrowisata, dan zona wisata tirta. Penataan vegetasi direncanakan memanfaatkan dan mempertahankan vegetasi asli tapak, tata hijau terdiri dari tata hijau produksi dan tata hijau konservasi.ÂÂ
References
Badan Pusat Statistik. 2011. Kabupaten Soppeng dalam Angka. BPS Kabupaten Soppeng
Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 1994. Kriteria Penilaian dan Pengembangan Objek Wisata Alam. Direktorat Bina Pelestarian Alam. Jakarta
Doosti, S., Hosseini, S. B., Reza, A., Azeri, K. 2015. The Physical Variables of Tourist Areas to Increase the Tourists Satisfaction Regarding the Sustainable Tourism Criteria : Case study of Rudsar Villages , Sefidab in Rahim Abad. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 201(February),128–135.
Fajriningtias. 2016. Upaya BIMP-EAGA dalam Membangun Konektivitas antar Kawasan di Indonesia. JOM FISIP Vol. 3, No. 2
Fandeli, C. 2000. Pengusahaan Ekowisata. Univ. Gajah Mada. Yogyakarta
Nurisyah, S. 2001. Rencana Pengembangan Fisik Kawasan Wisata Bahari di Wilayah Pesisir Indonesia. Buletin Taman Dan Lanskap Indonesia. Perencanaan, Perancangan dan Pengelolaan Volume 3, Nomor 2, 2000. Bogor: 133 Studio Arsitektur Pertamanan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Rismunandar. 2017. Strategi Pengelolaan Wisata Alam Berbasis Masyarakat Di
Taman Nasional Gunung Tambora. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Seniarfan. 2009. Konsep Pengembangan Lanskap Ekowisata kawasan Hutan Campaga Kecamatan Tompobulu Kabupaten Bantaeng. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Hasanuddin. Makassar
Suwantoro, , Gamal.1977.Dasar-Dasar Pariwisata.Yogyakarta : ANDI
Suwena, I. K., Wiyatmaja, I. G. N. 2010. Pengetahuan Dasar Ilmu Pariwisata.
Bali: Udayana University Pres.
Strickland-Munro JK, Allison HE, Moore SA. Using resilience concepts to investigate the impacts of protected area tourism on communities. Annals
of Tourism Research 37: 499 – 519.




